• SMA IBRAHIMY WONGSOREJO
  • KNOWLEDGE FOR ALL

PENGGUNAAN MEDIA “RUMAH BELAJAR KEMENDIKBUD” PADA TOPIK MITIGASI BENCANA ALAM

Best Practices

 

PENGGUNAAN MEDIA “RUMAH BELAJAR KEMENDIKBUD” PADA TOPIK MITIGASI BENCANA ALAM MATA PELAJARAN GEOGRAFI KELAS XI SEMESTER 2 DI SMA IBRAHIMY WONGSOREJO SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN KESIAPSIAGAAN BENCANA BANJIR DAN GEMPA BUMI

 Artikel diajukan untuk mengikuti
Lomba Menulis Artikel Pembelajaran Peningkatan Kesiapsiagaan Bencana

Oleh:
Hardiyanti Utami, S.Pd  

 

 

SMA IBRAHIMY WONGSOREJO
KABUPATEN BANYUWANGI
PROVINSI JAWA TIMUR
Maret 2019


Abstrak

Badan Penanggulangan Bencana telah menetapkan bahwa penanggulangan bencana tidak hanya terpaku pada tahap tanggap darurat, tetapi juga tahap pra bencana atau kesiapsiagaan. Sebagai negara yang memiliki potensi bencana alam yang besar, penduduk Indonesia harus siap menghadapi bencana. Melalui pendidikan, kesiapsiagaan bencana dapat mencapai sasaran yang luas serta lebih terperinci kepada peserta didik. Hal ini dapat dilakukan dengan cara memadukan pendidikan kesiapsiagaan bencana ke dalam kurikulum sekolah. Hal ini telah tercermin dalam kurikulum 2013 yang memasukkan topik mitigasi bencana alam dalam materi pelajaran geografi kelas XI semester II. Siswa diharapkan dapat mempersiapkan diri dalam menghadapi bencana terutama di sekolah melalui proses pembelajaran menggunakan media pembelajaran portal “Rumah Belajar Kemendikbud” yang berisi materi, tugas, dan kuis. Melalui media pembelajaran tersebut, dapat dihasilkan produk akhir berupa pembentukan tim siaga bencana yang mengatur rencana aksi kesiapsiagaan bencana melalui kegiatan simulasi bencana yang dapat dilakukan di sekolah. 


PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah   

Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki wilayah yang berisiko bencana, baik alam, non alam dan sosial. Dampak yang ditimbulkan dari adanya bencana alam di Indonesia beragam, mulai dari kerusakan materiil hingga korban jiwa. Salah satu yang terdampak bencana adalah bangunan sekolah sehingga mengakibatkan terganggunya kegiatan belajar dan mengajar di sekolah. Dampak bencana alam semakin parah apabila bencana terjadi pada saat kegiatan pembelajaran berlangsung. Oleh karena itu, diperlukan upaya peningkatan kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana di sekolah yang setiap saat dapat terjadi. 

Pemerintah melalui Kemendikbud juga telah berupaya mendukung program kesiapsiagaan bencana melalui portal pembelajaran “Rumah Belajar”. Melalui portal pembelajaran tersebut, guru dapat memfasilitasi siswa dalam menghadapi bencana melalui pembelajaran di kelas dengan menggunakan media ”Rumah Belajar” dengan topik Pengurangan Risiko Bencana (PRB). Penggunaan sumber belajar yang dibuat oleh kemendikbud diharapkan mampu meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi bencana melalui langkah-langkah pembelajaran yang diatur oleh guru di dalam pembelajaran baik di dalam atau di luar kelas. 

Peserta didik dan seluruh warga sekolah dapat terlibat aktif dalam kegiatan kesiapsiagaan menghadapi bencana. Siswa sebagai agen utama dalam pembelajaran di sekolah menjadi sasaran penting dalam kegiatan tersebut. Mata pelajaran yang diterima oleh peserta didik harus dikemas dengan metode dan media pembelajaran yang dapat memicu keterlibatan siswa secara aktif dalam pembelajaran terutama yang bersifat praktik. Tercapainya tujuan pembelajaran tergantung pada metode pembelajaran yang diterapkan di sekolah. Metode pembelajaran yang berorientasi pada proses akan dapat memungkinkan tercapainya tujuan belajar baik segi koginitif, afektif (sikap) dan psikomotorik (keterampilan). Oleh karena itu, metode pembelajaran diarahkan mencapai sasaran tujuan pembelajaran. mengacu pada beberapa hal tersebut, maka perlu adanya perpaduan media belajar yang tepat dalam proses pembelajaran. Suparman dalam (marisa, 134) menyampaikan komponen yang perlu dilakukan guru dalam pelaksanaan pembelajaran adalah mengembangkan strategi pembelajaran yang terdiri dari komponen urutan kegiatan, metode, media pembelajaran, dan waktu yang diperlukan untuk melaksanakan pembelajaran.  Melalui pembelajaran dengan perpaduan media yang tepat, diharapkan mampu memberikan hasil berupa keterlibatan dan kesiapsiagaan siswa dalam menghadapi bencana. 

Best practices ini menjabarkan pengalaman terbaik dalam proses pembelajaran peningkatan kesiapsiagaan bencana dengan menggunakan media pembelajaran yang disediakan oleh Kemendikbud berupa “Rumah Belajar” dengan topik Pengurangan Risiko Bencana. Melalui proses pembelajaran di kelas dengan menggunakan media belajar “rumah belajar”, tujuan pembelajaran dapat memunculkan bentuk perilaku terkait kesiapsiagaan menghadapi bencana. Hal ini sesuai dengan rumusan tujuan untuk kepentingan pembelajaran menurut Robert F.Meager (1962:13) dalam Metode Pembelajaran oleh Sumiati(2008:11) yakni secara spesifik menyatakan perubahan perilaku yang dapat terjadi sebagai hal yang dicapai. Best practices ini juga dapat dimanfaatkan sebagai alternatif pemecahan masalah yang inovatif dan mampu memberikan perubahan serta menjadi inspirasi dalam menerapkan pembelajaran yang bersifat ekonomis dan efisien.


Rumusan Masalah

Berdasarkan kajian pada proses pembelajaran yang dilakukan di sekolah dan telah dipaparkan dalam latar belakang, maka permasalahan yang terungkap dalam artikel ini yakni kurangnya kesiapsiagaan siswa dalam menghadapi bencana banjir dan gempa bumi yang terjadi di sekolah. Hal ini ditandai dengan hasil penilaian mandiri yang dilakukan di sekolah ditinjau dari berbagai aspek seperti kondisi gedung dan berbagai fasilitas lainnya. Dengan demikian, permasalahan yang perlu diatasi dalam artikel ini adalah bagaimana langkah-langkah pembelajaran yang perlu dilakukan dalam meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana banjir dan gempa bumi.  


Strategi Pemecahan Masalah

Pemecahan masalah yang diambil dalam menghadapi permasalahan ketidaksiapsiagaan siswa dalam menghadapi bencana banjir dan gempa bumi yakni dengan memfasilitasi siswa untuk terlibat aktif dalam pembelajaran dengan mengemas proses pembelajaran secara kreatif dan aktif melalui media pembelajaran interaktif portal “Rumah Belajar Kemendikbud”. Siswa diberikan lembar kerja yang dapat dikerjakan secara berkelompok ataupun individu.

Langkah-langkah yang dilakukan dalam meningkatkan kesiapsiagaan siswa dalam menghadapi bencana banjir dan gempa bumi terdiri dari:

  1. Siswa mengamati video terkait bencana alam banjir dan gempa bumi, dampak yang diakibatkan dari bencana tersebut hingga upaya yang dapat mengurangi risiko bencana.
  2. Siswa melakukan penilaian mandiri dan penggalian informasi terkait beberapa hal bersama teman sebaya, guru, dan warga sekolah lainnya.
  3. Siswa mengkaji risiko bencana yang ada di sekolah meliputi sejarah kejadian bencana, pembuatan kalender bencana, penilaian dan matriks ancaman bencana, pemetaan ancaman bencana, penilaian kerentanan, kapasitas dan risiko bencana
  4. Siswa membuat denah evakuasi bencana
  5. Siswa membuat rencana aksi dan tim siaga bencana
  6. Siswa melakukan simulasi bencana

TINJAUAN PUSTAKA

A. Media Pembelajaran "Rumah Belajar" 
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi secara tidak langsung berdampak pada cara guru merencanakan dan melaksanakan pembelajaran. Pada masa lalu, guru menjadi pusat dari segala aktivitas  pembelajaran sementara siswa menjadi objek pasif yang menunggu guru memberikan informasi. Namun dengan adanya perubahan posisi guru dalam pembelajaran yakni menjadi fasilitator, maka perlu pula diubah cara guru memfasilitasi siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran. Tantangan pendidikan dewasa ini juga menuntut proses pembelajaran yang membangun keterampilan abad 21, diantaranya keterampilan melek teknologi informasi dan komunikasi, berpikir kritis dan sistemik, memecahkan masalah, berkomunikasi efektif dan berkolaborasi. Keterampilan tersebut dapat dicapai apabila proses pembelajaran melibatkan teknologi informasi dan komunikasi yang diwujudkan melalui penerapan media pembelajaran yang bervariasi. Menurut Marisa (2011,123) pemanfaatan media dalam pembelajaran dapat dibagi dalam dua bagian, yaitu a) pemanfaatan media yang di desain khusus (by design) dan b) pemanfaatan media yang sudah tersedia (by utilization).

B. Kesiapsiagaan Bencana Gempa dan Banjir di Sekolah
Bencana alam merupakan kejadian yang timbul akibat adanya pemicu , ancaman, dan kerentananan. Menurut Undang-Undang No 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan bencana, bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan menganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan non alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis. Di dalam Undang-Undang N0. 24 Tahun 2007 juga didefinisikan mengenai bencana alam, bencana non alam, dan manusia.

  1. Bencana alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau rangkaian peristiwa non alam berupa gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir dan kekeringan, angina topan, dan tanah longsor.
  2. Bencana non alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau rangkaian peristiwa non alam yang antara lain berupa gagal teknologi, gagal modernisasi, epidemik, dan wabah penyakit.
  3. Bencana sosial, adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang dikaibatkan oleh manusia yang meliputi konfili sosial antar kelompok atau antarkomunitas masyarakat dan teror.

Berdasarkan pemaparan tersebut, maka gempa bumi dan banjir dapat digolongkan sebagai jenis bencana alam. Gempa bumi yang terjadi akibat pergerakan yang kuat dari lapisan bumi sehingga menyebabkan kerusakan besar terhadap bangunan, gedung, jembatan, bahkan timbulnya korban jiwa. Permukaan bumi yang terbentuk dari lapisan batuan luar atau kerak bumi. Kerak bumi tersebut dapat terpecah belah membentuk potongan-potongan yang dinamakan lempeng. Lempeng yang terbentuk dengan mudah dapat bergerak karena adanya tekanan dan arus di dalam bumi sehingga menimbulkan terjadinya gempa bumi.

Beberapa upaya mitigasi perlu dilakukan dalam menghadapi gempa bumi agar risiko bencana dapat diminimalisis sehingga dampak yang ditimbulkan tidak meluas. Mitigasi bencana yang dilakukan terdiri atas tiga tahapan yaitu sebelum, pada saat, dan setelah terjadi gempa bumi. hal-hal yang perlu dilakukan pada 3 tahapan tersebut meliputi:

  1. Sebelum terjadi gempa bumi
    1. Memperbaiki konstruksi bangunan sekolah agar tahan gempa
    2. Mengatur perabotan sekolah di posisi yang aman seperti memposisikan lemari dekat dengan dinding, meletakkan barang besar dan berat di lemari bagian bawah, meletakkan barang pecah belah dan mudah terbakar di tempat rendah dan tertutup, menggantungkan barang yang berat jauh dari tempat duduk siswa
    3. Mengidentifikasi dan memetakan daerah yang berpotensi gempa bumi
    4. Pembekalan pengetahuan sejak dini terkait bahaya gempa baik melalui sosialisasi ataupun pembelajaran di sekolah
    5. Mengetahui lokasi yang aman pada saat gempa, baik di dalam maupun di luar ruangan.
    6. Menyiapkan keperluan yang dibutuhkan pada saat kondisi darurat seperti lampu senter, radio, baterai cadangan, kotak p3k, lilin, obat-obatan, makanan dan minuman siap saji, uang tunai, buku tabungan dan surat-surat penting lainnya
    7. Menyiapkan diri dan keluarga agar siap menghadapi bencana dengan tidak panik serta menyimpan nomor-nomor penting misal BPBD provinsi, polisi, PMI, damkar dan TNI
  2. Pada saat terjadi gempa bumi
    1. Berlindung di sudut tembok ruangan yang kuat atau bawah meja, jika tidak ada lindungi kepala menggunakan tangan atau tas.
    2. Jauhi kaca atau jendela yang dapat melukai diri.
    3. Matikan gas, listrik dan air dan tetap menggunakan alas kaki
    4. Jangan menggunakan lift jika berada di dalam gedung
    5. Jika di dalam mobil segera menepi dan tetap tinggal di dalam kendaraan, hindari berhenti dekat bangunan, pohon, atau jembatan.
    6. Jika terjebak dalam reruntuhan bangunan, tutup mulut dengan sapu tangan dan munculkan suara
  3. Setelah terjadi gempa bumi
    1. Memeriksa luka pada diri sendiri dan meminta pertolongan
    2. Menyingkirkan barang-barang yang berbahaya
    3. Menjauhi kabel listrik dan tetap menjauhi area bangunan yang mudah roboh
    4. Mewaspadai adanya gempa susulan dengan tetap berada di lokasi yang aman atau berada di lokasi yang lebih tinggi
    5. Menghubungi petugas yang menangani bencana

Ketika bencana terjadi di sekolah, maka diperlukan beberapa tindakan agar risiko bencana dapat diminimalisir. Langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam menghadapi bencana di sekolah antara lain:

  1. Di kelas, siswa yang duduk paling dekat dengan pintu harus segera membuka pintu lebar-lebar, posisikan badan sekecil mungkin dengan cara berlutut dan lindungi diri.
  2. Jika menggunakan kursi roda, tetaplah bertahan dalam posisi melindungi diri.
  3. Di laboratorium, jauhi benda berbahaya, tutup tempat material berbahaya, dan menjauh dari lokasi terutama bahan yang mudah tumpah.

Ancaman bencana lain yang dapat terjadi adalah banjir yang terjadi akibat terendamnya suatu daratan akibat volume air yang meningkat karena tingginya curah hujan atau lokasi yang terletak di pinggir sungai sebagai daerah tangkapan hujan. Hal-hal yang perlu dilakukan untuk mengantisipasi risiko bencana banjir yaitu:

  1. Sebelum terjadi banjir
    1. Melakukan kajian dan perencanaan daerah evakuasi
    2. Menyiapkan segala kebutuhan yang mendesak secara terkoordinir
    3. Melakukan upaya peningkatan kesadaran masyarakat
    4. Mengupayakan system peringatan dini seperti alarm yang dapat memberikan pertanda pada saat banjir terjadi
    5. Secara aktif memantau dan mencari informasi terkait kondisi curah hujan
    6. Tidak membangun rumah di area yang dilindungi atau di pinggiran sungai.
  2. Sedang terjadi banjir
    1. Relokasi atau pindah ke tempat yang aman
    2. Jangan mencoba mengarungi banjir dengan ketinggian berapa pun meski dapat berenang
    3. Tidak menggunakan mobil pada saat meninggalkan bangunan
    4. Pakailah jaket pelampung dan hindari area dengan tegangan listrik tinggi.
    5. Upayakan penyelamatan diri terlebih dahulu dan naiklah ke lantai atas
    6. Tetap menggunakan alas kaki agar tidak terkena benda yang terbawa oleh arus banjir.
    7. Berkumpul dengan peserta didik lain dan berkoordinasi dengan guru agar mudah dalam proses evakuasi dan komunikasi dengan keluarga
  3. Setelah terjadi banjir
    1. Perhatikan kerusakan yang terjadi di sekitar rumah atau sekolah
    2. Melakukan kerjasama dengan pihak terkait penanganan pasca bencana
    3. Memperbaiki sarana prasarana yang kotor dengan tetap menjaga keselamatan diri

Berdasarkan modul manajemen bencana di sekolah (2015:4) ruang lingkup pedoman penerapan sekolah aman dari bencana terdiri atas 2 aspek dasar, yaitu:

  1. Kerangka kerja struktural terdiri dari lokasi aman, struktur bangunan aman, desain dan penataan kelas aman, dukungan sarana dan prasarana
  2. Kerangka kerja no struktural terdiri dari peningkatan pengetahuan, sikap, dan tindakan, kebiajakan sekolah aman, perencanaan kesiapsiagaan, dan mobilitas sumberdaya

Sekolah aman dapat dicapai dengan memadukan 3 pilar seperti pada gambar berikut.

Gambar 2. Perpaduan 3 pilar manajemen bencana sekolah (sumber: tim penyusun modul, 2015:5)

 

D. KERANGKA PEMIKIRAN

E. Hipotesis
Berdasarkan pemaparan pada bab pendahuluan, hipotesis dalam best practices ini yakni langkah-langkah pembelajaran dengan menggunakan media portal Rumah Belajar Kemendikbud pada topik mitigasi bencana alam dapat meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi bencana di sekolah.


PEMBAHASAN MASALAH
Cara pemecahan masalah

Best practices ini disusun dengan menggunakan teknik atau prosedur berdasarkan pengalaman yang telah dilakukan dalam kurun waktu tertentu. Siswa yang terlibat dalam proses pembelajaran adalah siswa kelas XI IPA Semester 2 di SMA Ibrahimy Wongsorejo yang berjumlah 30 siswa.

Teknik pengumpulan data yang digunakan terdiri dari beberapa bentuk yaitu:

  1. Kuis, berisi soal terkait aksi pengurangan risiko bencana yang dapat dilakukan di sekolah, aksi adaptasi perubahan iklim di sekolah, dan analisis tujuan pelibatan warga sekolah dalam kegiatan Pengurangan Risiko Bencana dan Adaptasi Perubahan Ikli
  2. Penilaian mandiri, merupakan kegiatan yang dilakukan dengan cara mengevaluasi kerentanan, kapasitas dan data bahaya di lingkungan sekitar sekolah, melakukan pendataan kondisi struktur dan non struktur sekolah, serta mendokumentasikan hasil analisa penilaian mandiri. Unsur yang dinilai terdiri dari 3 pilar sebagai beriku
  • Pilar 1, terdiri dari lokasi sekolah, kondisi sekolah, dan desain penataan kelas
  • Pilar 2, terdiri dari alat kesiapsiagaan tanggap darurat, serta
  • Pilar 3, terdiri dari pengetahuan, sikap dan tindakan
  1. Kajian risiko yang membahasa mengenai mekanisme terpadu untuk memberikan gambaran menyeluruh terhadap risiko bencana suatu daerah dengan menganalisis tingkat ancaman, tingkat kerugian, dan kapasitas daerah (Perka No 2/2012) yang meliputi:
  1. Identifikasi sejarah kejadian bencana berupa tahun kejadian, jenis bencana, penyebab bencana dan dampak bencana
  2. Pembuatan kalender ancaman bencana yang berisi detail tanggal kejadian bencana di masa lalu disertai penyebab dan sumber informasi bencana
  3. Penilaian dan matriks ancaman bencana sekolah , pemetaan ancaman di sekolah, penilaian kerentanan, risiko, serta kapasitas. Tingkat ancaman di sekolah dapat ditinjau menggunakan indikator berupa dampak dan probabilitas terjadinya bencana. Pada probabilitas, pengukuran dilakukan dengan memperhatikan frekuensi atau keseringan terjadinya gempa. Pada dampak, dapat ditinjau dari indikator kekuatan atau daya rusak, luasan area terdampak, durasi waktu, tingkat kerusakan dan kecepatan waktu kejadian. Penilaian kerentanan dilakukan secara partisipatif menggunakan pendekatan kualitatif meliputi manusia, sosial budaya, ekonomi, infrastruktur, dan lingkungan. Tingkat kerentanan ditentukan berdasarkan penilaian seluruh warga sekolah.  Kajian tingkat kapasitas berkaitan dengan aspek positif yang dapat mengurangi kerentanan yang ada seperti kebijakan, kesiapsiagaan, dan peran serta masyarakat.
  4. Proyek yakni kegiatan membuat denah evakuasi bencana dengan memperhatikan hal-hal yang dilakukan pada tahapan pembelajaran sebelumnya hingga berakhir dengan pembentukan tim siaga dan protap serta media publikasi seperti poster, komik, buku, dll.

Simulasi, suatu cara pembelajaran dengan melakukan tingkah laku secara tiruan. Pada kegiatan ini, peserta didik menyusun skenario simulasi hingga melakukan simulasi kesiapsiagaan di sekolah.


 

Komentari Tulisan Ini